Merajut Ilmu, Meneguhkan Adab: Safari Ilmiah Bersama Syeikh Ashrof Hamid Al Hasanain Al-Misry Al-Azhary

Diposting pada: 2026-08-24 Gambar Berita

Malang, 16 Agustus 2026 — Pondok Pembibitan Generasi Al-Qur’an (PPGA) Sirojul Qur’an kembali menghadirkan majelis ilmu bersama ulama dari Mesir dalam kegiatan Safari Ilmiah yang dilaksanakan pada Ahad, 16 Agustus 2026, pukul 18.30 WIB. Bertempat di PPGA Sirojul Qur’an, Landungsari, Dau, Kabupaten Malang, kegiatan tersebut menghadirkan Sidi Syeikh Ashrof Hamid Hasanain Al-Misry Al-Azhary, seorang pakar ilmu qira’at sekaligus Mudir Mu’assasah Al-Itqon, Kairo, Mesir, yang juga merupakan Imam dan Khatib Masjid Sayyid Hasan Al-‘Idwi, Mesir.

Majelis tersebut menjadi ruang bagi para santri dan jamaah untuk menimba ilmu sekaligus memperoleh nasihat keagamaan secara langsung dari salah satu ulama Al-Qur’an. Dalam tausiyahnya, Syeikh Ashrof Hamid menekankan pentingnya mensyukuri anugerah Allah SWT bagi setiap insan yang diberi kesempatan untuk senantiasa membaca, menghafal, serta menjaga Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut beliau, kemampuan untuk dekat dengan Al-Qur’an merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Tidak setiap orang mendapatkan kesempatan dan ketetapan hati untuk terus berinteraksi dengan Kalamullah. Oleh karena itu, orang-orang yang diberikan kesempatan untuk membaca, menghafal, dan ngerumat Al-Qur’an hendaknya menyadari bahwa hal tersebut merupakan bentuk karunia dan pilihan Allah SWT.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengutip salah satu hikmah Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary yang mengajarkan tentang pentingnya mengenali kedudukan diri di hadapan Allah melalui aktivitas yang memenuhi kehidupan seseorang.

“Jika engkau ingin mengetahui maqammu di sisi Allah, maka lihatlah keadaanmu sekarang. Disibukkan dengan apa engkau?”

Pesan tersebut menjadi refleksi bagi para peserta untuk mengevaluasi kesibukan sehari-hari. Syeikh Ashrof kemudian menyampaikan kandungan Hadits Qudsi yang menjelaskan keutamaan orang-orang yang disibukkan dengan Al-Qur’an dan mengingat Allah SWT. Mereka akan memperoleh karunia yang lebih utama dibandingkan apa yang diminta oleh orang-orang yang berdoa.

Atas dasar itu, beliau mengajak para peserta untuk senantiasa menyibukkan diri dengan berbagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Salah satu upaya yang ditekankan ialah memilih lingkungan pergaulan yang baik, yakni berteman dengan orang-orang yang keadaannya mampu membangkitkan semangat untuk beribadah serta dikenal memiliki kejujuran dalam perkataan dan perbuatan.

Menanamkan Adab Sebelum Ilmu
Sebelum melanjutkan kajian, Syeikh Ashrof mengajak para peserta untuk bersama-sama bershalawat. Majelis kemudian dilanjutkan dengan pembacaan shalawat yang indah, dengan terjemahan yang disampaikan oleh Ustaz Najmi dari Kedah, Malaysia.

Dalam rangkaian tausiyahnya, Syeikh Ashrof juga menyinggung sosok Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki yang fotonya terpampang di lingkungan pondok. Beliau kemudian menceritakan pengalaman pertemuannya dengan Sayyid Muhammad beberapa tahun silam di Kairo, Mesir. Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan keterkaitan sanad keilmuan Sayyid Muhammad dengan Syeikh Sholeh Ja’far Al-Misri.

Salah satu pesan penting yang disampaikan ialah mengenai kedudukan adab sebelum ilmu. Beliau menyampaikan bahwa Sayyid Muhammad pernah berpesan mengenai pentingnya adab, bahkan adab memiliki kedudukan yang sangat fundamental dalam perjalanan seseorang menuntut ilmu.

Beliau memberikan ibrah melalui kisah Iblis yang memiliki pengetahuan luas dan pernah menjadi bagian dari kalangan yang memiliki kedudukan tinggi, namun akhirnya terlaknat karena tidak memiliki adab kepada Allah SWT dan tidak menaati perintah-Nya terkait Nabi Adam AS.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar seorang penuntut ilmu tidak hanya mengejar keluasan pengetahuan, tetapi juga membangun akhlak dan adab kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, guru, serta sesama manusia. Jangan sampai aktivitas menuntut ilmu justru menjadikan seseorang jauh dari nilai-nilai adab.

Syeikh Ashrof juga menyampaikan kisah Imam Malik yang berguru kepada Imam Rabi’ah Ar-Ra’yi. Dalam kisah tersebut, perjalanan belajar Imam Malik selama bertahun-tahun banyak ditekankan pada pembentukan adab sebelum pendalaman ilmu. Kisah ini menjadi penegasan bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya diukur dari seberapa luas pengetahuannya, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut membentuk akhlaknya.

Ditutup dengan Ijazah Dua Kitab Al-Hikam

Pada penghujung majelis, Syeikh Ashrof Hamid memberikan ijazah kepada para peserta untuk dua kitab, yaitu Al-Hikam karya Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary dan Hikam Al-Ja’fary karya Syeikh Sholeh Ja’far Al-Misri, yang merupakan salah satu guru beliau.

Sebelum prosesi ijazah, beliau menyampaikan salah satu kalam hikmah dari kitab Hikam Al-Ja’fary yang menekankan pentingnya memusatkan perhatian kepada Allah SWT:

“Sibukkanlah dirimu dengan Allah, dan jangan sibukkan dirimu dengan selain-Nya.”

Pesan tersebut kemudian dikontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari. Syeikh Ashrof mengingatkan agar seorang muslim lebih banyak menyibukkan dirinya dengan Al-Qur’an dan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah daripada tenggelam dalam berbagai kesibukan duniawi yang melalaikan, termasuk penggunaan gawai secara berlebihan.

Safari Ilmiah bersama Syeikh Ashrof Hamid Hasanain Al-Misry Al-Azhary tersebut menjadi momentum berharga bagi keluarga besar PPGA Sirojul Qur’an untuk memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, memperdalam tradisi keilmuan, serta menanamkan kembali pentingnya adab dalam perjalanan seorang penuntut ilmu.

Lebih dari sekadar majelis ilmu, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an merupakan anugerah yang patut disyukuri, ilmu harus berjalan beriringan dengan adab, dan kehidupan seorang muslim seyogianya senantiasa diarahkan untuk mendekat kepada Allah SWT.

Semoga majelis ilmu dan ijazah yang telah diberikan menjadi wasilah keberkahan serta memberikan manfaat bagi seluruh keluarga besar PPGA Sirojul Qur’an dalam menjaga, mengamalkan, dan menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

Oleh: Tim Media PPGA Sirojul Qur’an

← Kembali ke Daftar Berita